Surabaya, 20 Januari 2011 10:00
Mahasiswa dari berbagai universitas di Surabaya menggalang dana Rp 1.000 dari warga kota untuk membantu pemulangan 200 buruh migran Indonesia (TKI) yang terlantar di kolong jembatan di Arab Saudi, melalui gerakan "Sewu untuk TKI".
"Kami menghimpun dana di beberapa titik di Kota Pahlawan sejak Senin (17/1) hingga Jumat (21/1) selama 24 jam dengan tiga shift (giliran)," kata koordinator mahasiswa yang menggalang dana di Taman Bungkul Surabaya, Fabianus Hendrik, Kamis (20/1).
Mahasiswa Unair Surabaya itu menjelaskan, mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dan Universitas Merdeka (Unmer) Surabaya membuka posko penggalangan dana "Sewu untuk TKI" di Taman Bungkul, Surabaya.
Namun, posko lain juga dibuka mahasiswa lain di persimpangan Kampus C Unair, pertokoan Petra Togamas, depan Kampus Universitas Wijaya Kusuma (UWK) Surabaya, kampung nelayan Nambangan Kenjeran, dan sebagainya.
"Hasilnya akan kami hitung belakangan, tapi nantinya akan kami salurkan kepada TKI di sana melalui jaringan Migrant Care yang mengkoordinasikan penggalangan dana untuk TKI itu," katanya, didampingi Rudi dari UWK Surabaya.
Sementara itu, juru bicara gerakan "Suroboyo Sewu untuk TKI", Dandik Katjasungakan mengatakan, sekitar 200 buruh migran Indonesia hingga kini sudah tiga bulan terlantar di kolong jembatan di Saudi Arabia dalam kondisi memprihatinkan.
"Para buruh migran itu tidur di trotoar dengan hanya beralaskan tikar dan setiap hari menanti uluran tangan siapapun untuk sekedar makan, karena itu kami dari koalisi masyarakat sipil mengambil inisiatif untuk menggalang dana melalui gerakan `Rp1.000 untuk pemulangan TKI`," katanya.
Menurut dia, estimasi biaya pemulangan 200 TKI hanyalah Rp1,7 miliar atau hanya 0,9 persen dari anggaran Presiden SBY untuk kunjungan ke luar negeri yang mencapai Rp179 miliar, namun pemerintah terkesan membiarkan para TKI di sana.
"Padahal, setiap tahun TKI menyumbangkan PNBP (Penghasilan Negara Bukan Pajak) sebesar Rp600 miliar dari biaya perlindungan 15 dolar AS yang dibayarkan setiap akan berangkat. Selain itu, tahun 2010, TKI juga telah menyumbangkan devisa dari keringat mereka sebesar 7,1 miliar dolar AS," katanya.
Gerakan "Suroboyo Sewu untuk TKI" itu didukung puluhan aktivis dari Koalisi Perempuan Pro Demokrasi (KPPD), IKOHI Jawa Timur, LHKI, Sapu Lidi, Pemuda Nambangan, Daulat Arek Suroboyo, WALHI Jawa Timur, LaKSMI, Soekarno Institute, KJPL, dan Cerah Institute.
Di tingkat nasional, gerakan itu didukung Romo Benny Susetyo, Adhie M Massardi, Fajroel Rahman, Ifdal Kasim, Zumrotin KS, Smita Notosusanto, KontraS, WALHI, Institute Hijau, Migrant CARE, PSHK, HRWG, YLBHI, INFID, JATAM, Komisi HAK KWI, dan ICW.
"Kami juga mengajak partisipasi langsung masyarakat untuk ikut membantu pemulangan TKI itu melalui rekening Yayasan Migrant CARE No 908.01.01086.00.3, Bank CIMB Niaga Rawamangun, Jakarta Timur. Hasilnya akan diinformasikan secara transparan," katanya. [TMA, Ant]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar