Aksi mahasiswa menolak eksplorasi Lapindo di Sidoarjo
Terkait
Tiga butir pernyataan sikap Forum Advokasi Mahasiswa Unair itu dikeluarkan memperingati lima tahun lumpur Lapindo, di Sidoarjo, Jawa Timur.
Butir pertama mahasiswa mendukung perjuangan rakyat Sidoarjo mendapatkan ganti rugi layak dari PT Minarak Lapindo. Kedua, mendesak pemerintah menolak rencana baru pengeboran eksplorasi Lapindo di Sidoarjo. Alasannya, keselamatan warga Sidoarjo harus lebih diutamakan.
Poin ketiga pernyataan mendesak pemerintah membawa kasus “Lumpur Lapindo” ke pengadilan. Lapindo menurut mereka bertanggung jawab atas akibat yang ditimbulkannya.
Bidang Humas FAM Unair, Mochamad Rissalah menjelaskan, tragedi Lapindo pada 29 Mei genap lima tahun. Tragedi lima tahun lalu itu menenggelamkan desa dan menghancurkan ekonomi rakyat Porong, Jabon, dan Tanggulangin.
Sejak lumpur panas menyembur dari sumur eksplorasi Banjar 1 milik Lapindo, 28 Mei 2006 lalu, kini sudah 16 desa tenggelam dan sekitar 70.000 KK (kepala keluarga) menjadi korban.
Permasalahan tidak akan selesai hanya dengan ganti rugi bangunan dan penanggulangan tanggul. Banyak fakta yang diabaikan pihak Lapindo, terutama dalam kesehatan, air bersih, ekonomi, pendidikan, dan lain-lain.
“Proses ganti rugi sendiri pun tidak berjalan lancar. Tercatat hanya 12.000 KK menerima ganti rugi. Artinya, hanya se per sekian persen KK dari jumlah total korban yang dapat merasakan ganti rugi dari Tragedi Lumpur Lapindo tersebut,” katanya.
Kini, kata Mochamad, fakta tentang gas-gas akibat semburan lumpur Lapindo menghantui para keluarga yang mengungsi. Sumber mata air bersih sebagai sumber kehidupan pun menjadi sulit didapat.
“Pihak Lapindo seakan tutup mata dengan apa yang dialami oleh warga yang rumahnya menjadi korban lumpur Lapindo. Masyarakat yang menjadi korban, seakan berteman dengan gas-gas beracun. Tempat pengungsian yang letaknya tidak jauh dari lokasi titik semburan menjadi faktor utama betapa gas-gas beracun dari Lapindo dengan cepat hinggap di paru-paru warga,” bebernya.
Dampak buruk semburan lumpur Lapindo juga kian meluas dan tak terkendali. Di kawasan Porong, kini telah terjadi penurunan tanah yang membahayakan rumah warga.
Rumah yang semula tidak tenggelam oleh lumpur pun terancam roboh. Bukan hanya penurunan tanah, gas liar yang mudah terbakar pun muncul di kawasan itu.
Belum selesai masalah itu, lanjut Mochamad, Lapindo berencana menambah titik eksplorasi di Desa Kalidawir, Kecamatan Tanggulangin, yang hanya berjarak beberapa kilometer dari pusat semburan lumpur.
“Dari sisi ekonomi mungkin eksplorasi itu layak karena Provinsi Jawa Timur memang terkenal sebagai penopang migas nasional. Pertanyaannya adalah meskipun secara ekonomi layak, tapi apakah secara sosial rencana Lapindo kembali melakukan pengeboran itu juga layak?” tanyanya.
Karena itulah, kata dia, mahasiswa dalam butir kedua pernyataan menolak rencana itu. Mahasiswa khawatir Lapindo Jilid II terjadi di Jawa Timur.sumber berita dari http://kalbar-online.com/news/metropolitan/mahasiswa-tolak-eksplorasi-lapindo-jilid-ii
Tidak ada komentar:
Posting Komentar