Minggu, 29 Mei 2011 | 19:58 WIB
Kabar Rakyat
Oleh : Abdul Munthalib
Kabar Rakyat
Oleh : Abdul Munthalib
Puluhan mahasiswa ini hanya mengenakan celana pendek dan melumuri seluruh badannya dengan lumpur. Lalu, mahasiswa itu pun mulai meliuk-liukkan badannya di atas genangan lumpur itu.
Menurut Mochamad Rissalah, salah seorang peserta aksi yang ditunjuk sebagai Humas, aksi teatrikal ini hendak menunjukkan penderitaan rakyat Sidoarjo akibat genangan lumpur yang sudah berlangsung lima tahun.
Tidak jauh dari tempat teatrikal, mahasiswa membentangkan spanduk putih bertuliskan: “Lumpur Lapindo Muncrat, Rakyat Melarat, Sengsara, Kiamat..” Spanduk itu juga dibubuhi gambar-gambar, yang salah satunya adalah gambar Aburizal Bakrie, pengusaha pemilik PT. Lapindo.
Menurut mahasiswa, sejak semburan lumpur Lapindo lima tahun yang lalu, setidaknya sudah ada 16 desa tenggelam dan sekitar 70.000 KK yang menjadi korban. Selain itu, proses ganti-rugi juga tidak berjalan dengan baik, sebab hanya 12.000 KK yang mendapat ganti rugi atau sepersekian dari total jumlah korban.
Selama lima tahun sejak kejadian itu, menurut mahasiswa, para korban lumpur Lapindo juga berhadapan dengan gas beracun yang berdampak pada sejumlah penyakit. “Sumber mata air yang bersih juga semakin sulit didapatkan,” ujar mahasiswa dalam statemennya.
Oleh karena itu, mahasiswa pun menganggap pemerintahan SBY-Budiono telah membiarkan kejahatan Lapindo. Selan itu, mahasiswa juga menganggap SBY-Budiono telah membodohi rakyat dengan menutupi kejahatan tersebut.
FAM Unair mengajukan tiga tuntutan: mendesak PT. Minarak Lapindo memberikan ganti-rugi yang layak kepada seluruh korban lumpur Lapindo, mendesak pemerintah menolak rencana baru pengeboran eksplorasi Lapindo di Sidoarjo, dan mendesak pemerintah agar membawa kasus Lapindo ini ke pengadilan.sumber berita oleh http://berdikarionline.com/kabar-rakyat/20110529/fam-unair-anggap-sby-lindungi-kejahatan-lapindo.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar