19 May 2011 // 21:15 //
FAM Unair Menurunkan Bendera Setengah Tiang di Makam WR Supratman
“Aksi ziarah ke makam W.R Supratman ini sengaja kami lakukan, karena kami memandang hari ini kita semua mengalami krisis kepemimpinan dan sedang berada dalam kekuasaan neoliberalisme (penjajahan gaya baru),” papar Angela Sima Nariswari, humas FAM Unair, Kamis (19/05).
Di saat kuasa Neoliberalisme telah menghancurkan kedaulatan bangsa dan membuat Rakyat Indonesia menjadi budak di negerinya sendiri, para intelektual negeri ini ternyata malah hanya bungkam saja.
Hal itu tentunya berbeda jauh dengan apa yang di lakukan oleh W.R Supratman dulu, walaupun beliau di didik dalam lembaga pendidikan kolonial Belanda, tetapi beliau mempunyai jiwa yang berani untuk tidak tunduk dan takut pada para penjajah.
“Kondisi kebungkaman kaum intelektula itu kami rasakan sendiri di kampus tempat kita berkuliah, Universitas Airlangga. Saat ini para pejabat unair memilih diam terhadap segala intervensi pemodal asing melalui IMF, World Bank dan ADB (Asian development Bank) yang ingin mengusai dunia pendidikan nasional, tak terkecuali di Universitas Airlangga,” imbuh mahasiswi FK ini.
Angela menegaskan bahwa kenaikan biaya SP3 yang terjadi di unair saat ini adalah bukti nyata bagaimana pejabat Unair menjadi intelektual yang jauh dari kepentingan rakyat dan lupa terhadap perjuangan para pendahulunya. Mereka boleh saja mengaku kaum intelektual yang memegang prinsip excellent with morrality, tetapi sebenarnya mereka tak lebih intelektual yang berwatak Inlander (terjajah) dan rela menjadi anteknya kaum pemodal asing.
“Sehingga tidak lah mengherankan kalau para pejabat unair sendiri, tidak malu saat menyebarkan kebohongan publik bahwa Unair akan menggratiskan biaya pendidikan bagi rakyat miskin, padahal sebenarnya semua itu hanya palsu belaka,”tegasnya.(jto/nas) sumber berita oleh : suarakawan.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar