- Sunday, May 22, 2011, 19:32
Tiga Belas tahun yang lalu, 21 Mei 1998, sebuah Rezim yang telah berkuasa dan memonopoli kekuasaan Indonesia selama 32 tahun, berhasil di tumbangkan oleh gerakan rakyat yang sudah menginkan perubahan yang lebih baik dalam negara ini. Reformasi itu sendiri bukan hanya sekedar sebuah peristiwa politik untuk menumbangkan rezim soeharto, tapi lebih dari itu merupakan ekspresi dari kemarahan rakyat yang telah di tindas dan di hisap oleh Rezim Soeharto selama 32 tahun.
Tiga belas tahun sudah euforia reformasi berlalu, namun sayangnya ternyata keadaan bangsa Indonesia tidaklah menjadi lebih baik, namun malah semakin suram saja. Para elit-elit politik yang mengaku sebagai reformis gadungan telah membajak arah reformasi dan membawa negara ini kembali menghamba kepada kepentingan negara-negara kapitalis asing. Pemerintahan SBY-Boediono juga telah gagal menjaga keberagaman dan kemajemukan bangsa.
Dalam beberapa bulan ini saja, kita banyak menemukan kekerasan terhadap rakyat mengatasnamakan agama dan keyakinan, seperti misalnya tragedi pembantaian pengikut ahmadiyah di Cikeusik Banten, kerusuhan dan pembakaran gereja di temanggung Jawa tengah. Dalam hal ini, pemerintah beserta aparat kepolisian terkesan melakukan politik pembiaran dan tidak melindung kaum minoritas. Kebijakan dari pemerintahan SBY-Boediono selama ini, membuat rakyat pekerja Indonesia hidup dalam kemiskinan dan seperti budak di negaranya sendiri, sedangkan di sisi lain elit-elit politik bangsa ini tanpa malu hidup mengkorupsi uang rakyat.
Semakin marak terjadi privatisasi terhadap aset-aset publik dan penguasaan kekayaan alam Indonesia oleh para pemodal asing. Di sektor perburuhan, kaum buruh di jerat dengan sistem kerja kontrak, outsourcing dan politik upah murah, yang merupakan rekomendasi dari IMF untuk menerapkan Labour Market Flexibility (LMF) atau pasar tenaga kerja yang fleksibel. Di berbagai daerah terjadi perampasan tanah-tanah rakyat untuk kepentingan kawasan pertambangan dan industri para pemodal. Penetrasi neoliberalisme itu juga terlihat nyata dalam produk perundang-undangan kita yang sarat dengan titipan para pemodal asing, misalnya saja UU Penanaman Modal Asing (PMA) yang memberikan kewenangan kontrak karya selama 95 tahun kepada perusahaan asing.
Dunia pendidikan dan kesehatan pun tidak luput dari penetrasi Neoliberalisme. Pemerintah telah melepas tanggung jawabnya untuk memberikan pelayanan pendidikan dan kesehatan yang layak untuk warga negaranya, namun malah menyerahkannya ke mekanisme pasar. Hal ini kemudian berdampak memicu kenaikan besar-besaran pada biaya pendidikan maupun biaya berobat rakyat kecil. Sehingga tidak mengherankan kalau kemudian muncul pameo, orang miskin di larang sekolah dan orang miskin di larang sakit.
Hal ini semakin menunjukkan bagaimana watak dari Rezim SBY-Boediono, yang lebih suka korupsi dan menjadi anteknya negara-negara kapitalis. Mereka telah lupa terhadap cita-cita yang di perjuangkan oleh para pejuang kemerdekaan dulu yang menginginkan Indonesia setelah merdeka rakyatnya menjadi makmur dan sejahtera.
Acara kemudian di lanjutkan dengan refleksi tentang kondisi Indonesia hari ini yang kembali dalam penguasaan Neoliberalisme (Penjajahan Gaya Baru) dan para pemimpin negeri ini sekarang malah asyik berkorupsi.
Acara refleksi kondisi Indonesia saat ini tersebut di isi oleh kawan Richo Haryono, mahasiswa Fisika Unair.
Acara ini kemudian di lanjutkan Instrumental biola dari kawan Angela S. Nariswari di atas patung W.R. Supratman dengan membawakan lagu perjuangan nasional seperti, Tanah Airku, Indonesia Tanah Air beta serta lagu Indonesia Raya.
Kemudian kegiatan di tutup dengan tabur bunga dan ziarah bersama ke makam W.R Supratman dengan di iringi intrusmen biola lagu syukur.
Editor : JeM
http://mediapalu.com (Humas FAM Unair – Mochmad Risalah)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar