Minggu, 22/05/2011 07:03 WIB
"Para elit-elit politik yang mengaku sebagai reformis gadungan telah membajak arah reformasi dan membawa negara ini kembali menghamba kepada kepentingan negara-negara kapitalis asing. Pemerintahan SBY-Boediono juga telah gagal menjaga keberagaman dan kemajemukan bangsa,"ujar Humas Forum Advokasi Mahasiswa (FAM) Universitas Airlangga, Mochmad Risalah dalam pers rilis yang diterima www.today.co.id di museum WR Supratman, Surabaya, Sabtu (21/5/2011) malam.
Risalah memaparkan beberapa peristiwa, misalnya tragedi pembantaian pengikut ahmadiyah di Cikeusik Banten, kerusuhan dan pembakaran gereja di temanggung Jawa tengah. "Pemerintah beserta aparat kepolisian terkesan melakukan politik pembiaran dan tidak melindung kaum minoritas,"paparnya.
Selain itu, lanjut Risalah, pemerintah semakin marak menjual tanpa rasa bersalah aset-aset publik dan penguasaan kekayaan alam Indonesia kepada pemodal asing. Di sektor perburuhan, kaum buruh di jerat dengan sistem kerja kontrak, outsourcing dan politik upah murah, yang merupakan rekomendasi dari IMF untuk menerapkan Labour Market Flexibility (LMF) atau pasar tenaga kerja yang fleksibel.
Kelalaian pemerintah selanjutnya, menurut FAM, dunia pendidikan dan kesehatan menjadi korban dari penetrasi Neoliberalisme. Pemerintah telah melepas tanggung jawabnya untuk memberikan pelayanan pendidikan dan kesehatan denganmenyerahkan ke mekanisme pasar.
"Semua memicu kenaikan besar-besaran pada biaya pendidikan maupun biaya berobat rakyat kecil. Sehingga tidak mengherankan kalau kemudian muncul pameo, orang miskin di larang sekolah dan orang miskin di larang sakit,"paparnya. sumber berita oleh www.today.co.id
Tidak ada komentar:
Posting Komentar