Mahasiswa Unair tolak DO
DUTA MASYARAKAT, 15 Oktober 2010
SURABAYA- Puluhan Mahasiswa Universitas Airlangga (Unair) Surabaya yang mengatasnamakan Forum Advokasi Mahasiswa, kembali berunjuk rasa di depan kantor rektorat Kampus C Sukolilo, Kamis (14/10). Aksi yang sudah ke tiga kalinya ini dikarenakan belum adanya penjelasan dari Rektor Unair tentang nasib mahasiswa yang terancam kena drop out (DO).
Sebagai bentuk protes, mahasiswa membentangkan sejumlah poster bertuliskan "SPP mahal, SP3 mahal, Ikoma mahal, ujung-ujung DO", "PK kecil kesalahan kurikulum Unair", "Kembalikan hak pendidikan mahasiswa", dan Evaluasi sistem Unair, penjajahan gaya baru". Selain itu, para demonstran juga menyanyikan lagu-lagu mengkritik birokrasi pendidikan di Unair.
Bunyi syair lagu tersebut diantaranya "Mana-dimana, sumbernya bencana? Sumbernya bencana ada dikampus Unair," kata para pendemo bernyanyi dengan kompak.
Gundul salah satu pengunjuk rasa, mengatakan ancaman DO sama halnya mengebiri hak mahasiswa mendapat pendidikan. Tahun ini, kata Gundul, sekitar 300 mahasiswa terancam DO. "Hak mahasiswa belajar tanpa disangkut pautkan dengan lamanya pendidikan. Dengan melakukan DO, mereka telah melakukan komersialisasi pendidikan," teriak Gundul dalam orasinya.
Orator lainya Roni, menambahkan kendatipun Unair merupakan kampus negeri, namun biaya masuk pendidikan sangat mahal. "Sudah masuk bayarnya mahal, kami dikorbankan," ujarnya.
Sayangnya aksi itu, tidak mendapat respon dari pihak rektorat sebagaimana aksi sebelumnya. Akhirnya setelah demo selama satu jam, para mahasiswa membubarkan diri, sambil mengancam akan menggugat Unair ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTNU) atas akan kebijakannya melakukan DO terhadap mahasiswa.
Terpisah Direktur akademik Unair, Ni Nyoman Tri Puspaningsih, mengatakan tak hanya mahasiswa, dosen pun dievaluasi prestasi akademiknya. Menurut dia, mekanisme DO bagi mahasiswa sudah diatur dan tidak mungkin dihapus. Menurutnya, DO merupakan bagian dari evaluasi sekaligus menyeleksi mahasiswa. "Sumber daya dan kualitas mahasiswa akan terjaga," ujar dia.
Seleksi dan penilaian mahasiswa, kata dia, tidak hanya dilakukan saat mendaftar di Unair namun dilakukan secara berkelanjutan. "Jadi tidak mungkin DO dihapus," imbuhnya. Lebih lanjut dia menjelaskan, tahun ini ada 152 mahasiswa yang final di DO.
Sebagai bentuk protes, mahasiswa membentangkan sejumlah poster bertuliskan "SPP mahal, SP3 mahal, Ikoma mahal, ujung-ujung DO", "PK kecil kesalahan kurikulum Unair", "Kembalikan hak pendidikan mahasiswa", dan Evaluasi sistem Unair, penjajahan gaya baru". Selain itu, para demonstran juga menyanyikan lagu-lagu mengkritik birokrasi pendidikan di Unair.
Bunyi syair lagu tersebut diantaranya "Mana-dimana, sumbernya bencana? Sumbernya bencana ada dikampus Unair," kata para pendemo bernyanyi dengan kompak.
Gundul salah satu pengunjuk rasa, mengatakan ancaman DO sama halnya mengebiri hak mahasiswa mendapat pendidikan. Tahun ini, kata Gundul, sekitar 300 mahasiswa terancam DO. "Hak mahasiswa belajar tanpa disangkut pautkan dengan lamanya pendidikan. Dengan melakukan DO, mereka telah melakukan komersialisasi pendidikan," teriak Gundul dalam orasinya.
Orator lainya Roni, menambahkan kendatipun Unair merupakan kampus negeri, namun biaya masuk pendidikan sangat mahal. "Sudah masuk bayarnya mahal, kami dikorbankan," ujarnya.
Sayangnya aksi itu, tidak mendapat respon dari pihak rektorat sebagaimana aksi sebelumnya. Akhirnya setelah demo selama satu jam, para mahasiswa membubarkan diri, sambil mengancam akan menggugat Unair ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTNU) atas akan kebijakannya melakukan DO terhadap mahasiswa.
Terpisah Direktur akademik Unair, Ni Nyoman Tri Puspaningsih, mengatakan tak hanya mahasiswa, dosen pun dievaluasi prestasi akademiknya. Menurut dia, mekanisme DO bagi mahasiswa sudah diatur dan tidak mungkin dihapus. Menurutnya, DO merupakan bagian dari evaluasi sekaligus menyeleksi mahasiswa. "Sumber daya dan kualitas mahasiswa akan terjaga," ujar dia.
Seleksi dan penilaian mahasiswa, kata dia, tidak hanya dilakukan saat mendaftar di Unair namun dilakukan secara berkelanjutan. "Jadi tidak mungkin DO dihapus," imbuhnya. Lebih lanjut dia menjelaskan, tahun ini ada 152 mahasiswa yang final di DO.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar