Senin, 23 Mei 2011

REFLEKSI 13 TAHUN REFORMASI

Rezim SBY-Boediono telah gagal menjaga Keberagaman Bangsa serta telah Gagal pula Mensejahterakan Rakyat !


Tiga Belas tahun yang lalu, 21 Mei 1998, sebuah Rezim yang telah berkuasa
dan memonopoli kekuasaan Indonesia selama 32 tahun, berhasil di tumbangkan
oleh gerakan rakyat yang sudah menginkan perubahan yang lebih baik dalam
negara ini. Reformasi itu sendiri bukan hanya sekedar sebuah peristiwa
politik untuk menumbangkan rezim soeharto, tapi lebih dari itu merupakan
ekspresi dari kemarahan rakyat yang telah di tindas dan di hisap oleh Rezim
Soeharto selama 32 tahun.
Tiga belas tahun sudah euforia reformasi berlalu, namun sayangnya ternyata
keadaan bangsa Indonesia tidaklah menjadi lebih baik, namun malah semakin suram
saja. Para elit-elit politik yang mengaku sebagai reformis gadungan telah
membajak arah reformasi dan membawa negara ini kembali menghamba kepada
kepentingan negara-negara kapitalis asing. Pemerintahan SBY-Boediono juga
telah gagal menjaga keberagaman dan kemajemukan bangsa.
Dalam beberapa bulan ini saja, kita banyak menemukan kekerasan terhadap
rakyat mengatasnamakan agama dan keyakinan, seperti misalnya tragedi
pembantaian pengikut ahmadiyah di Cikeusik Banten, kerusuhan dan pembakaran
gereja di temanggung Jawa tengah. Dalam hal ini, pemerintah beserta aparat
kepolisian terkesan melakukan politik pembiaran dan tidak melindung kaum
minoritas. Kebijakan dari pemerintahan SBY-Boediono selama ini, membuat rakyat
pekerja Indonesia hidup dalam kemiskinan dan seperti budak di negaranya
sendiri, sedangkan di sisi lain elit-elit politik bangsa ini tanpa malu
hidup mengkorupsi uang rakyat.
Semakin marak terjadi privatisasi terhadap aset-aset publik dan penguasaan
kekayaan alam Indonesia oleh para pemodal asing. Di sektor perburuhan, kaum
buruh di jerat dengan sistem kerja kontrak, *outsourcing dan *politik upah
murah, yang merupakan rekomendasi dari IMF untuk menerapkan Labour Market
Flexibility (LMF) atau pasar tenaga kerja yang fleksibel. Di berbagai daerah
terjadi perampasan tanah-tanah rakyat untuk kepentingan kawasan pertambangan
dan industri para pemodal. Penetrasi neoliberalisme itu juga terlihat nyata
dalam produk perundang-undangan kita yang sarat dengan titipan para pemodal
asing, misalnya saja UU Penanaman Modal Asing (PMA) yang memberikan
kewenangan kontrak karya selama 95 tahun kepada perusahaan asing.
Dunia pendidikan dan kesehatan pun tidak luput dari penetrasi
Neoliberalisme. Pemerintah telah melepas tanggung jawabnya untuk memberikan
pelayanan pendidikan dan kesehatan yang layak untuk warga negaranya, namun
malah menyerahkannya ke mekanisme pasar. Hal ini kemudian berdampak memicu
kenaikan besar-besaran pada biaya pendidikan maupun biaya berobat rakyat
kecil. Sehingga tidak mengherankan kalau kemudian muncul pameo, *orang
miskin di larang sekolah dan orang miskin di larang sakit**. *
Hal ini semakin menunjukkan bagaimana watak dari Rezim SBY-Boediono, yang
lebih suka korupsi dan menjadi anteknya negara-negara kapitalis. Mereka
telah lupa terhadap cita-cita yang di perjuangkan oleh para pejuang
kemerdekaan dulu yang menginginkan Indonesia setelah merdeka rakyatnya
menjadi makmur dan sejahtera.
Oleh karenanya, dalam momentum peringatan 13 tahun Reformasi ini, kami dari
*Forum Advokasi Mahasiswa Universitas Airlangga* kemudian mengadakan
renungan bersama di museum serta makam dari W.R. Supratman. Kami mengadakan
kegiatan di kedua tempat itu dengan satu harapan agar kita semua tidak lupa
terhadap cita-cita perjuangan para pejuang dulu. Maka dari itulah kami juga
menyatakan sikap :
1.    Rezim SBY-Boediono telah mengkhianati cita-cita pejuang
kemerdekaan !
2.   Rezim SBY-Boediono telah gagal menjaga keberagaman bangsa serta
gagal mensejahterakan Rakyat.
3.  Hancurkan Neoliberalisme (Penjajahan Gaya Baru) karena terbukti
hanya membawa kesengsaraan dan kemelaratan rakyat.
*Surabaya, 21 Mei 2011*
*Hormat Kami,*
Humas FAM Unair 
sumber berita oleh : www.seputarsulawesi.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar