Selasa, 31 Mei 2011

Presiden SBY Selalu Lindungi Lapindo

SURABAYA – Lambannya penanganan korban musibah luapan Lumpur Lapindo di Sidoarjo diprotes mahasiswa yang tergabung dalam FAM (Forum Advokasi Mahasiswa) Universitas Airlangga. Mereka menuding, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tidak bertanggung jawab dan cenderung melindungi Lapindo ketimbang korban dan warga Jawa Timur.

Hal tersebut dilontarkan aktivis FAM Unair dalam rangka memperingati 5 tahun semburan lumpur Lapindo. Mereka juga menggelar aksi teatrikal. Dengan membuat gambar seorang setan berwajah 'Bakrie' dengan tanduk warna merah dan mulutnya berlumuran warna merah. “Lima tahun korban Lumpur panas Lapindo menderita, tapi kejahatan ini dibiarkan Rezim presiden SBY, bahkan malah selalu di lindungi,” tuding Humas FAM Unair, M Rissalah kepada wartawan di sela-sela aksinya di depan gedung negara Grahadi, Jalan Gubernur Suryo, Minggu (29/5).

Ia menambahkan, rezim SBY telah membodohi rakyat Indonesia, karena tetap melindungi Lapindo yang jelas-jelas bersalah, dari pada membela rakyat Porong yang telah 5 tahun menderita. "Mungkin SBY, Bakrie dan juga pejabat tinggi di negeri ini belum pernah dan tidak akan pernah merasakan penderitaan panjang korban Lapindo," tegasnya.

FAM Unair menilai, rezim SBY I membiarkan kejahatan kemanusian Lapindo akibat pengeboran dari sumur eksplorasi Banjar Panji 1 milik Lapindo. Akibatnya, sekitar 70.000 kepala keluarga (KK) di 16 desa tenggelam. Warga korban lumpur banyak yang menghirup gas beracun. "Di tengah hiruk-pikuk klaim pemerintah yang membanggakan bahwa kemiskinan telah menurun. Ternyata, melalui kacamata kasus Lapindo saja sudah terjawab, bagaimana kemiskinan masih terus-menerus menghinggapi negeri ini. Masyarakat kehilangan pekerjaan, lahan pertanian, rumah, perkampungan hilang ditelan lumpur. Pendidikan anak-anak korban lumpur pun menjadi semakin tidak jelas nasibnya," ujarnya.

Dalam peringatan 5 tahun kejahatan lumpur panas Lapindo, FAM Unair menyatakan sikap yakni pertama, mendukung perjuangan rakyat Sidoarjo korban lumpur panas Lapindo untuk mendapatkan ganti untung yang layak dari PT Minarak Lapindo. Kedua, mendesak pemerintah menolak rencana baru pengeboran eksplorasi Lapindo di Sidoarjo, karena keselamatan warga Sidoarjo harus lebih diutamakan. "Ketiga, mendesak pemerintah membawa kasus Lumpur Lapindo ini ke pengadilan dan lapindo harus bertanggungjawab atas akibat yang ditimbulkannya," jelasnya.

Selain melakukan orasi, peserta aksi juga membentangkan berbagai poster diantaranya bertuliskan "Lumpur lapindo muncrat, rakyat mlarat sekarat kiamat', "Kami butuh keadilan', '5 tahun warga Porong menderita' dan berbagai poster lainnya. Mereka juga menggelar teatrikal yang menggambarkan penderitaan warga korban lumpur Lapindo. rko sumberberita dari http://www.surabayapagi.com/index.php?3b1ca0a43b79bdfd9f9305b812982962a33d17b54fcd4ad4dd687dfb2e5d9e27

Tidak ada komentar:

Posting Komentar