Senin, 23 Mei 2011

Merah Putih Setengah Tiang di Tangan Gubernur Suryo

E-mail Print PDF
kedaiberita.com - Di tengah arus globalisasi dan liberalisasi masyarakat Indonesia berada pada persimpangan jalan ‘membingungkan’. Pada satu sisi kemajuan dan ketersediaan beraneka jenis barang memanjakan masyarakat, di sisi lain arus pasar bebas menggerus kemandirian perekonomian dan menggeser watak kelembagaan publik menjadi semakin kapitalistik.
Pernyataan di atas merupakan bentuk keprihatinan yang diungkapkan oleh Forum Advokasi Mahasiswa Universitas Airlangga (FAM Unair) Surabaya dalam aksi peringatan Hari Kebangkitan Nasional yang jatuh pada 20 Mei 20011. Menurut mereka kemerdekaan dalam arti kekinian jauh dari makna merdeka sebagaimana diperjuangkan oleh organisasi Boedi Oetomo, yang berdiri pada 1908 silam sebagai tonggak kebangkitan nasional melawan kolonoalisme Belanda.
“Boedi Oetomo pada saat itu adalah perkumpulan kaum muda yang berpendidikan dan peduli terhadap nasib bangsa, yang antara lain diprakarsai oleh Dr.Soetomo, Dr.Wahidin Soedirohoesodo, dan Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Mereka adalah hasil didikan lembaga pendidikan kolonial Belanda pada era politik etis, tapi dengan pendidikan yang mereka berbalik melawan kolonial Belanda.” kata mahasiswa Farmasi Unair, Albertus Beny, dalam sebuah pernyataan kepada kedaiberita.com, Jumat (20/05/11).
Kali ini, dalam reflekesi Hari Kebangkitan Nasional mahasiswa yang tergabung dalam FAM Unair melakukan aksi teatrikal di kompleks Patung Gubernur Suryo di depan Gedung Grahadi Surabaya. Aksi teatrikal ini merupakan simbolisasi bahwa Indonesia kembali lagi dalam penguasaan Neoliberalisme (penjajahan gaya baru). Simbolisasi aksi berupa penancapan dua bendera merah putih setengah tiang di dua tangan patung gubernur suryo, yang kemudian di lanujtkan dengan taburan bunga di iringi lagu "gugur bunga" yang di iringi pula gesekan biola.
“Sekalipun negara ini katanya telah merdeka, apa yang terjadi saat ini justru sangat jauh dari makna merdeka. Penjajahan nyata terjadi dialami kaum buruh, pelajar, petani, dan rakyat pekerja lainnya. Hanya saja penjajahan yang kita alami sekarang tidak terlihat oleh kasat mata dan dengan cara kekerasan seperti yang dilakukan kolonial Belanda jaman dahulu, tetapi lewat investasi atau penanaman modal ke Indonesia yang melahirkan adanya kemudian melahirkan privatisasi aset-aset publik dan penguasaan kekayaan alam Indonesia oleh pihak asing.” Papar Albertus Beny selaku Humas aksi.
Para aktivis ini pun mencontohkan bentuk penjajahan baru di sektor perburuhan, kaum buruh saat ini terjerat dengan sistem kerja kontrak, outsourcing dan politik upah murah, yang merupakan rekomendasi dari Internasional Monetary Fund (IMF) untuk menerapkan Labour Market Flexibility (LMF) atau pasar tenaga kerja yang fleksibel.
Mereka menambahkan, terjadi perampasan tanah-tanah rakyat untuk kepentingan kawasan pertambangan dan industri para pemodal.
“Penetrasi neoliberalisme itu juga terlihat nyata dalam produk perundang-undangan kita yang sarat dengan titipan para pemodal asing, misalnya saja UU Penanaman Modal Asing (PMA) yang memberikan kewenangan kontrak karya selama 95 tahun kepada perusahaan asing.” kata Beny.
Dunia pendidikan, imbuh Beny, tidak luput dari cengkeraman neoliberalisme. Menurutnya, Pemerintah telah melepas tanggung jawabnya untuk menyelenggarakan pendidikan yang layak untuk warga negaranya, namun malah menyerahkannya ke mekanisme pasar.
“Hal ini kemudian berdampak memicu kenaikan besar-besaran biaya pendidikan di sekolah maupun perguruan tinggi, seperti misalnya kasus kenaikan biaya SP3 di kampus kami, Universitas Airlangga. Bisa akan mudah kita tebak bila liberalisasi pendidikan ini terus terjadi, anak-anak dari kaum buruh, petani, nelayan akan kesulitan di berkuliah di kampus kita ini.” tegas mahasiswa Farmasi Unair ini.
Beny pun menegaskan bahwa watak pemerintah saat ini jauh dari semangat perjuangan kemerdekaan dan kesejahteraan bangsa Indonesia. Aparatur pemerintah lebih suka korupsi, dan menjadi kaki tangan negara-negara kapitalis.
“Pemerintah yang seharusnya menjamin kesejahteraan rakyatnya, justru melepas tanggung jawabnya dan tunduk kepada kaum pemodal. Hal ini jelas sangat bertentangan dan senyata-nyatanya merupakan pengkhianatan terhadap cita-cita para pejuang kemerdekaan dulu yang menginginkan Indonesia setelah merdeka rakyatnya menjadi makmur dan sejahtera.” ujarnya.
Dalam momentum peringatan Hari Kebangkitan Nasional ini, Forum Advokasi Mahasiswa Universitas Airlangga (FAM Unair) menyatakan sikap :
1.  Neoliberalisme (Penjajahan Gaya Baru) adalah musuh bersama dari Mahasiswa dan Rakyat Pekerja Indonesia.
2.  Menyerukan kepada seluruh rakyat Indonesia untuk membangun kantong-kantong perlawanan dalam rangka menghancurkan system kapitalisme-neoliberal yang terbukti hanya membawa kesengsaraan dan kemelaratan rakyat.(dik)
sumber berita oleh kedaiberita.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar