Senin, 23 Mei 2011

Mahasiswa Unair Tolak Liberalisme-Kapitalisme Pendidikan

Aksi mahasiswa Unair pada peringatan Harkitnas 20 Mei
Aksi mahasiswa Unair pada peringatan Harkitnas 20 Mei

Indonesiabelum sepenuhnya merdeka. Penjajahan nyata masih terjadi terhadap kaum petani, pelajar, buruh, dan rakyat pekerja.
“Penjajahan yang kita alami sekarang tidak terlihat secara kasatmata dan dengan cara kekerasan seperti yang dilakukan kolonial Belanda zaman dahulu. Tetapi lewat investasi atau penanaman modal ke Indonesia yang melahirkan adanya kemudian melahirkan privatisasi aset-aset publik dan penguasaan kekayaan alam Indonesia oleh pihak asing,” kata Humas Forum Aliansi Mahasiswa Universitas Airlangga, Albertus Beny, dalam siaran pers yang dikirim ke redaksi, siang tadi.
Dia mencontohkan, kaum buruh saat ini terjerat dengan sistem kerja kontrak, outsourcing, dan politik upah murah, yang merupakan rekomendasi dari Internasional Monetary Fund (IMF). Perampasan tanah-tanah rakyat untuk kepentingan kawasan pertambangan dan industri para pemodal masih terjadi.
“Penetrasi neoliberalisme itu juga terlihat nyata dalam produk perundang-undangan kita yang sarat dengan titipan para pemodal asing. Misalnya, Undang-Undang Penanaman Modal Asing (PMA) yang memberikan kewenangan kontrak karya selama 95 tahun kepada perusahaan asing,” ungkapnya.
Dunia pendidikan pun, menurutnya tidak luput dari penetrasi neoliberalisme. Pemerintah telah melepas tanggung jawabnya untuk menyelenggarakan pendidikan yang layak untuk warga negaranya.
Pemerintah cenderung menyerahkannya ke mekanisme pasar. Hal ini kemudian berdampak memicu kenaikan besar-besaran biaya pendidikan di sekolah maupun perguruan tinggi.
“Misalnya kasus kenaikan biaya SP3 di kampus kami, Universitas Airlangga. Bisa akan mudah kita tebak bila liberalisasi pendidikan ini terus terjadi, anak-anak dari kaum buruh, petani, nelayan akan kesulitan kuliah di kampus kita ini,” paparnya.
Kondisi itu menunjukkan watak asli pemerintah, yang menurut Beny lebih suka korupsi dan menjadi anteknya negara-negara kapitalis. Pemerintah yang seharusnya menjamin kesejahteraan rakyatnya, justru melepas tanggung jawab dan tunduk kepada kaum pemodal.
Hal ini jelas sangat bertentangan dan nyata-nyatanya merupakan pengkhianatan terhadap cita-cita para pejuang kemerdekaan dulu,  menginginkan Indonesia menjadi makmur dan sejahtera.
Dari latar itu, Forum Advokasi Mahasiswa Universitas Airlangga menyatakan sikap, neoliberalisme adalah musuh bersama dari mahasiswa dan rakyat pekerja Indonesia.
Mahasiswa menyerukan kepada seluruh rakyat Indonesia untuk membangun kantong-kantong perlawanan dalam rangka menghancurkan sistem kapitalisme-neoliberal yang terbukti hanya membawa kesengsaraan dan kemelaratan rakyat. sumber berita oleh www.kalbar-online.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar