Puisi dan doa yang di buat kawan-kawan FAM Unair ini mungkin bisa di katakan sangat sederhana sekali dan sangat tidak estetik. Jujur, puisi ini memang di buat dengan sangat terburu-buru, hanya beberapa jam menjelang acara, di sela-sela kawan-kawan mendinginkan otak sambil menikmati secangkir kopi dan sebatang rokok, sehabis penat mengikuti Ujian.. Apalagi puisi berjudul Ayahanda yang di tujukan untuk "Rektor Unair yang terhormat", Fasichul Lisan, bukanlah di buat oleh orang yang mungkin benar-benar menggeluti dunia sastra, melainkan hanya karya dari seorang mahasiswa jurusan Ekonomi Pembangunan angkatan 2010, Ketut Sandy Swastika. Yang dunia sehari-harinya tidak bergelut dengan kajian sastra, namun berhadapan dengan dosen-dosen ekonomi yang secara tidak sadar telah mencekoki mahasiswanya dengan teori ekonomi liberal dan neo-liberal karya Adam Smith, Milton Friedman, Friedrich Von Hayek, yang sangat menghegemonik dan sarat dengan kepentingan negara-negara kapitalis dunia.
Sedangkan doa anak bangsa ini sendiri juga buah pemikiran keroyokan kolektif kerja FAM Unair. Doa ini semua hanyalah buah serpihan kata demi kata yang kita dapatkan dari hasil cangkruk di warung kopi, membaca buku, bercengkerama dengan para buruh dan anak jalanan. Serta hasil tidur di dalam gallery kampus, yang mana setiap terdengar kumandang adzan subuh selalu terdapat ibu-ibu yang sibuk mengais botol-botol minuman bekas dari tempat sampah, yang kemudian di kumpulkan dan di jual ke pedagang rongsokan.
Walaupun boleh dikatakan sangat sederhana sekali, semoga puisi serta doa yang kami buat ini tidak hanya menggetarkan hati para pejabat Unair, namun juga pada setiap mahasiswa Unair dan setiap orang yang telah sudi menyempatkan waktu untuk membacanya. Karena seperti yang pernah di ucapkan oleh Ernesto Che Guevara, "Jika hatimu bergetar melihat sebuah Penindasan, maka kau adalah kawanku"..
Ayahanda
Ayah...
Di sini aku menantimu..
Menanti Kedatanganmu untuk mengecup keningku..
Sudah lama ku merindumu..
Sudah kulupa sosokmu..
Tak kungingat tapi ku kenang..
Ayah..
Tersirat kabar ku mendengar.
Engkau telah berbuat yang tak pernah ku duga..
Kau telah membunuhnya..
Kau telah membunuh calon adikku..
Ayah..
Ijinkan aku bertanya..
Mengapa engkau yang ku bangga..
engkau yang menjadi panutanku..
Kini telah menjadi seorang pembunuh..
Ayah..
Adikku belum lahir, bahkan dia belum bisa Menyapamu,
Tapi Mengapa !!
Engkau Membunuhnya !!
Ayah..
Mengapa engkau hanya bisa membisu dan tak pernah mau menemuiku
Apa salahku ??
Ayahku Fasichul Lisan..
Doa Anak Bangsa
Tuhan,
Puji Syukur kami haturkan kepada MU, atas segala karunia yang telah engkau berikan kepada kami.
Ketika kami kenyang, karena bisa makan..
Ketika kami bisa mengenyam pendidikan..
Ketika kami dapat tidur nyenyak di dalam kokohnya tembok rumah kami..
Tuhan,
Ketika kami berjalan keluar dari selimut nyamannya hidup kami,
Apa yang kami lihat ternyata berbeda dengan apa yang kami rasakan..
Banyak saudara kami tidur di bawah kolong jembatan berselimut dingin dan debu..
Banyak saudara kami harus mengais sampah demi sesuap nasi..
Banyak anak bangsa terhempas hak dan cita-citanya karena mahalnya biaya pendidikan..
Tuhan,
Kami tau hak dan kesejahteraan adalah milik bersama..
Kami pun resah dengan kondisi pendidikan saat ini..
Pendidikan semakin di komersilkan..
Ketika rakyat ingin mengenyam pendidikan, tetapi di persulit dengan mahalnya biaya pendidikan..
Kampus kita, Unair, salah satunya..
Kenaikan Biaya yang ada di Unair adalah bentuk nyata praktek komersialisasi Pendidikan...
Tuhan,
Kami di sini bersama-sama berdoa untuk para Birokrasi Unair..
Agar mereka terbuka hati nuraninya,
Tidak buta matanya, tidak tuli pendengarannya, dan tidak dangkal pemikiranya,
Sehingga bisa memutuskan kebijakan yang berpihak pada kepentingan rakyat
dengan tidak menaikkan biaya pendidikan...
Tuhan,
Apa yang kami lakukan ini hanyalah bertujuan untuk mengubah keadaan kami..
Keadaan yang di akibatkan dari perilaku penguasa yang tidak bertanggung jawab kepada rakyat..
Karena kami yakin perubahan ada di tangan kita..
Amin..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar