http://www.surya.co.id/2010/08/25/tolak-komersialisasi-unair.html
Tolak Komersialisasi Unair
Mahasiswa Protes Sistem DO
SURABAYA - SURYA- kampus Universitas Airlangga (Unair) Surabaya bergolak. Sekitar 50 aktivis mahasiswa dari berbagai fakultas unjuk rasa menolak komersialisasi pendidikan. Demo digelar di kantor rektorat Kampus C, Selasa (24/8).
Selain menolak keras komersialisasi pendidikan, mereka juga menentang penerapan sistem drop out (DO) tanpa melihat kondisi riil mahasiswa.
Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Forum Advokasi Mahasiswa (FAM) Unair terusik nuraninya setelah mengetahui bahwa Sumbangan Peningkatan dan Pengembangan Pendidikan (SP3) bagi mahasiswa baru mencapai ratusan juta. “Tidak salah jika diberitakan di media kalau masuk kedokteran harus membayar Rp 800 juta. Ini fakta,” teriak Fikri Dwi Ramadan, orator.
Demo juga digelar karena pihak kampus memaksakan sistem DO. Forum advokasi mahasiswa ini mencatat ada sekitar 300 mahasiswa yang menjadi korban kebijakan ini. “Bagaimana mungkin mahasiswa yang baru semester dua tiba-tiba dipanggil secara lisan dan disodori tawaran pengunduran diri. Kami menolak DO dengan sistem ini dengan tanpa melihat kondisi yang dialami mahasiswa. Kami kuliah sambil kerja,” ungkap Andre Jektiyono, mahasiswa FE, yang dicekal, sehingga tidak bisa mengurus KRS.
Perwakilan mahasiswa ini berunjuk rasa sambil mengusung poster kecaman terhadap rektorat. Beberapa poster tulisan yang diusung adalah Tolak komersialisasi pendidikan. Jangan rampas hak pendidikan kami. Keputusan DO menandakan kegagalan sistem kurikulum BHMN. Para mahasiswa ini juga mempertanyakan uang Ikoma.
“Dana Ikoma tak jelas. Orang tua kita dipajeki yang bukan kewajibannya. Dimana pula uang praktik D3 selama ini. Unair sekarang tidak pantas lagi menyandang perguruan tinggi negeri karena semua serba uang,” teriak Andre kembali yang disambut yel-yel khas mereka.
Aksi dimulai sekitar pukul 11.30 WIB. Dengan naik puluhan motor, para mahasiswa dari pelbagai jurusan ini menuju gedung rektorat. Aksi ini mendapat pengawalan ketat satpam kampus. Mereka terus berorasi di depan rektorat sambil mendesak diizinkan masuk rektorat. Setelah diizinkan, mereka tidak ingin ada perwakilan dan meminta rektor Unair Fasich menemui mereka.
Merasa mendapat ruang, para mahasiswa ini pun naik ke lantai lima dimana rektor berada. Sedianya, mereka akan diterima rektor di ruang sidang lantai lima itu. Namun, setiba di ruang sidang, rektor pun batal menemui mereka. Para mahasiswa semakin murka sehingga berorasi dan yel-yel di dalam gedung rektorat.
Akibatnya, suasana gaduh dan heboh pecah di dalam gedung rektorat. Seluruh karyawan di gedung ini pun memilih menonton demo di dalam gedung ketimbang bekerja. Para karyawan ini melihat orasi di tiap-tiap lantai. Aksi kali ini dipusatkan di lantai satu gedung rektorat.
Karena rektor tetap tidak mau menerima mereka, mahasiswa ini pun membubarkan diri. Namun, saat bubar ini, mereka menggeber-geber suara motornya sehingga suasana semakin gaduh. Mereka juga sempat berkeliling kampus dengan suara mesin motor yang sama.
Jajaran rektorat yang sebelumnya menolak menemui mahasiswa baru berani keluar setelah suara mesin motor tak terdengar. “Bagaimana mungkin rektor menerima mahasiswa kalau tidak mau perwakilan. Masak harus gerudukan. Tetapi, persoalan DO ini lebih karena faktor mahasiswa sendiri. DO diberlakukan untuk menjamin mutu pendidikan di Unair,” kata Wakil Rektor I Achmad Syahrani.
Syahrani bersama pimpinan yang lain, Wakil Rektor II Muhammad Nasih, Sekretaris Unair Hadi Shubhan, Direktur Pendidikan Ni Nyoman Tri Puspaningsih, Direktur Kemahasiswaan Imam Mustofa, serta Ketua Badan Perencanaan Pengembangan Unair Tjitjik Srie Tjahjandarie. “Aturan DO sesuai SK Rektor 13/H3/PR/2009. Evaluasi mahasiswa S-1 dilakukan di akhir semester empat. Yang tidak mencapai 40 SKS dengan IPK kurang dari 2,00 tak diperbolehkan melanjutkan studi. Evaluasi D3 semester dua,” tambah Syahrani.
Wakil Rektor II Muhammad Nasih menjelaskan bahwa komersialisasi pendidikan di Unair tidak ada. Sesuai amanat UU, ada kuota 30 persen untuk SPP mahal. Besarnya SP3 tidak akan memengaruhi mahasiswa diterima di Unair melalui PMDK umum. Diakui ada yang menyumbang sampai Rp 1 miliar tetapi tidak diterima. “Tahun ini, besaran SP3 tidak lebih dari 113 persen. Data yang masuk, SP3 paling tinggi Rp 250 juta,” kata Ni Nyoman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar