Minggu, 20 Februari 2011

Mahasiswa Tolak Kedatangan SBY

 
MAHASISWA TOLAK KEDATANGAN SBY
Serang polisi, blokade jalan, sandra truk BBM


DUTA MASYARAKAT, 15 Desember 2010

SURABAYA—Kunjungan kerja Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Jawa Timur Selasa (14/12) kemarin kembali mendapat penolakan dari mahasiswa. Gabungan mahasiswa dari ITS, Unair, dan sejumlah kampus lain di Surabaya melakukan aksi demonstrasi menolak kedatangan SBY. Aksi mahasiswa terkonsentrasi di dua titik yakni Bundaran ITS serta Kampus B Unair Surabaya.

Aksi demonstrasi di Bundaran ITS dilakukan puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Surabaya sekitar pukul 09.30 WIB. Dalam aksi yang diikuti sekitar 30 mahasiswa tersebut mereka mengkritik kegagalan kepemimpinan SBY. Para mahasiswa juga mengkritisi terbentuknya sekretariat gabungan (Setgab) parpol koalisi yang cenderung transaksional sehingga mencederai kepemimpinan Presiden.

Para mahasiswa yang berada di sisi timur dekat pintu masuk kampus ITS tampak merangsek ke utara arah Graha ITS— tempat SBY melakukan kuliah umum. Namun karena jumlahnya sedikit, massa HMI dan IMM bisa didorong mundur oleh satuan pengamanan yang membawa tameng dan berjumlah lebih banyak. Para mahasiswa pun akhirnya membubarkan diri.

Namun, di titik lain, demonstrasi mahasiswa berlangsung panas. Bahkan, aksi mahasiswa di depan kampus B Unair ricuh. Mahasiswa dan polisi terlibat baku hantam dan lempar batu saat berusaha membubarkan aksi yang dilakukan di tengah jalan.

Demonstrasi yang dilakukan puluhan mahasiswa gabungan GMNI, Aliansi Tolak SBY Datang, dan elemen lain itu semula dilakukan dengan cara berorasi di depan pintu masuk kampus B. Namun beberapa saat kemudian, demonstran membakar ban bekas di tengah Jalan Airlangga. Mereka menolak kapitalisasi pendidikan dan kesehatan. Selain itu, para mahasiswa juga menolak privatisasi energi dan migas.

Polisi berpakaian preman yang berjaga di lokasi tak bisa bergerak. Mereka hanya bisa mengimbau agar mahasiswa tidak meneruskan aksinya. Namun mahasiswa tidak menghiraukan, hingga polisi akhirnya merangsek membubarkan paksa para mahasiswa.

Melihat aparat bergerak, para mahasiswa langsung lari tunggang-langgang. Namun ada sebagian mahasiswa melakukan perlawanan dengan membalas pukulan polisi. Situasi yang cukup genting itu membuat polisi melepaskan tembakan peringatan sebanyak tiga kali. Polisi akhirnya mengamankan tiga mahasiswa yang dianggap menjadi provokator. Ketiga mahasiswa itu adalah Reza, Hernowo dan Rahmat Wahyudi.

Perang batu

Melihat hal itu mahasiswa yang ada di dalam kampus melempar batu ke arah kendaraan dan polisi. Petugas pun berusaha berlindung di balik truk dan meninggalkan lokasi. Tapi mahasiswa terus saja melempar batu.

Penangkapan tiga mahasiswa itu memantik emosi mahasiswa. Mereka marah dan bergerak untuk memblokade pertigaan Jalan Dharmawangsa-Airlangga, tepatnya di traffic light kampus B Unair sisi timur RSU Dr Soetomo. Mahasiswa memblokade jalan dengan cara menyilangkan bambu dan membakar ban serta kayu bekas. Para mahasiswa menuntut agar tiga rekannya segera dibebaskan.

Aksi berjalan kian mencekam. Para mahasiswa menghentikan seluruh pengguna jalan dengan menyabet-nyabetkan potongan bambu. Bahkan, mahasiswa menyandera truk tanki BBM yang nekat melintas di Jalan Dharmawangsa. Sopir truk BBM itu diminta keluar dan mahasiswa naik ke atas truk. Mereka berorasi di atas truk dan menuntut ketiga rekannya segera dibebaskan.

“Kami akan memblokir jalan sampai ke-3 rekan kami dibebaskan pihak kepolisian. Dan polisi harus meminta maaf secara institusional,” teriak salah satu peserta aksi di atas truk tanki BBM.

Hingga pukul 12.20 WIB, mahasiswa makin banyak bergerombol dan meneriakkan ketidakpuasannya terhadap polisi. Setelah memblokir Jalan Dharmawangsa-Airlangga lebih dari dua jam, sebuah mobil polisi datang dari arah utara menuju konsentrasi massa. Mobil polisi itu ternyata ditumpangi Wakapolrestabes Surabaya AKBP Tomsi Tohir. Di dalam mobil tersebut juga ada dua mahasiswa rekan para demonstran.

Tomsi langsung mengajak perwakilan demonstran untuk berdialog di salah satu rumah di Jalan Dharmawangsa. Dalam dialog itu dua mahasiswa yang sempat ditahan polisi diserahkan. Satu mahasiswa lain ternyata sudah dilepaskan terlebih dulu.

Dalam dialog tersebut, mahasiswa meminta agar pihak kepolisian meminta maaf. “Kami meminta bapak polisi meminta maaf langsung di depan teman-teman terkait penangkapan dan penembakan,” kata Febrianus Hendrik, salah satu mahasiswa peserta aksi.

Permintaan itu langsung ditanggapi Wakapolrestabes Surabaya. “Secara pribadi saya meminta maaf dan kami berupaya lebih baik dalam menjalankan tugas,” tuturnya.

Dia menjelaskan, upaya represif yang dilakukan anak buahnya sudah sesuai prosedur. Karena massa melakukan aksi pembakaran di tengah jalan dan mengganggu ketertiban umum. Terkait suara tembakan, pihaknya akan menyelidiki kasus tersebut.

“Memang kita menangkap 3 orang, yang satu sudah kita lepaskan dan dua orang ini setelah kita mintai keterangan ternyata hanya membantu polisi memisah rekan-rekannya. Kami akan menyelidiki siapa yang melakukan penembakan dan anggota tetap stand by,” tandasnya.

Pasca dibebaskannya tiga mahasiswa, para demonstran langsung membubarkan diri masuk ke dalam kampus. Petugas polisi dan pengamanan kampus langsung membersihkan sisa-sisa pembakaran di Jalan Dharmawangsa dan Airlangga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar